Morning Coffee

Pagi adalah inspirasi

Step

Setiap Langkah Kecil adalah Progres Besar bagi Hidup

Night

Bintang-bintang hanyalah masa lalu

Miracle

Keajaiban muncul dari energi tersembunyi di setiap manusia

God

Tuhan selalu ada di setiap sudut tersembunyi dari jiwa manusia

Rabu, 20 Januari 2016

Tanah Dewi Sri

Kami adalah anak-anak Jawa..
Kami bersetubuh dengan hijau dan bayi-bayi air yang diturunkan Dewi Sri..

Burung-burung putih yang menemani ayah kami bertani adalah sahabat kami menegak secangkir kopi...

Gemerlap kehidupan kami adalah lampu-lampu yang dipancarkan ribuan kunang-kunang di setiap batang padi yang merunduk...

Ketika hujan berlalu, kami diberikan atraksi senyap para kabut yang datang senada dengan orkestra para katak yang gembira...

Dari taman loteng rumah kami,...Bayi bayi air menghalau matahari yang berselimut menuju peraduan senja...

Kami adalah anak-anak Jawa...

Kami hidup di tanah pusaka yang dijaga para Dewa....

Kamis, 14 Januari 2016

Baghdadi dan ISIS Mati Berdiri

Sebenarnya tulisan ini sudah diposting beberapa kawan di medsos....Tapi melihat fenomenanya, saya jadi gatal untuk tetap menuliskan walaupun repost....
Saya baru sadar, budaya kita mengolok2 diri sendiri ternyata akhirnya berguna juga ya menangkal serangan teror...Melihat teror Paris dan Jakarta bedanya besar banget. Saya melihat tayangan tv asing di Paris sampe hari ke 2 situasi masih terus mencekam...sementara di Jakarta, hari kedua ini ditandai dengan canda dan olok-olok kepada ISIS....hahaha....Serangan balik ini belum ditambah serangan dari "pasukan khusus" kita yang hanya ada satu di dunia lho...pasukan para alay.....
"ISIS?pa an?q gag tw tuu....ni orng b-aza nonky d' sarinah?"kata salah satunya...
Belum lagi saya lihat banyak kawan2 yang sudah update status dg beralih isu di medsos2...tidak lagi ttg bom jakarta...
Tanpa mengecilkan rasa duka kepada para korban...tapi bom ini seperti isu kecil yang hanya booming satu hari saja... Benar kata beberapa pengamat di televisi tadi..kita sudah biasa diintimidasi dan menertawakan kelakuan pejabat dan oknum2 bangsa kita yang kelakuannya sungguh konyol...sehingga yang tadinya dimaksudkan ISIS sbg teror ini justru menjadi "hiburan" yang lucu bagi bangsa ini...khususnya warga jakarta.
Insya Allah itu si Baghdadi mati berdiri di Suriah sana gara2 misinya jauh dari harapan.....
Apapun itu...turut sedih dan berbela sungkawa kepada para korban...
Dan walaupun kita tidak takut sama sekali (saya lebih suka menggunakan syok daripada takut sesuai kenyataan sebenarnya di lapangan), kita tetap harus waspada akan teror2 lanjutan..

Rabu, 13 Januari 2016

The Kind of You

Anda memang bijak. Kami hanya Kau minta untuk berbuat baik saja di dunia yang umurnya cukup pendek ini. Berbuat baik itu banyak ragamnya. Perintah itupun kami terjemahkan. Namun kami, manusia, tidaklah semua sama. Ibarat kami masuk ke universitas, walaupun kami lolos tes dg standard yang sudah sama, selanjutnya kami masih harus mempelajari hal berbeda. Dan kami manusia memiliki penalaran yang berbeda pula. Jika ada yang lulus dengan cumlaude, itu karena ia dapat memahami dengan baik apa yang diajarkan.

Berbuat baik tidak ada tutorialnya. Beberapa manusia mencoba menciptakan tutorial berbuat baik dengan nama agama. Masing masing punya cara sendiri untuk memaksa kami, manusia, belajar berbuat baik. Namun kebodohan manusia pulalah yang memperdebatkan tutorial tutorial tersebut, walaupun jika benar benar dicerna, arah tujuan tutorial itu sama dan sepaham. Agama hanya cara agar manusia terikat kontrak kepada salah satu tutorial supaya dalam belajar berbuat baik, manusia konsisten dengan kurikulum yang telah disediakan. Namun sayang, sekali lagi manusia justru mendebatkan hal yang tidak penting, doktrinasi bahwa si pembuat tutorial adalah yang paling benar, dan semua diluarnya adalah salah.

Tuhan...bagiku Kau Agung dan selalu baik...jauh lebih baik dari kami manusia...

Selasa, 12 Januari 2016

Pantry Itu...

Hari itu, saya kembali menginjakkan kaki di Tendean setelah bertahun bertualang di Jogja.. Tempat ini, bertahun lalu adalah sebuah ruang kosong luas. Kami bebas menentukan di mana kami akan bekerja, dan....tidur! Beberapa teman bahkan membawa peralatan tidur dari rumah dan digelar di atas karpet biru yang masih baru, lalu tertidur pulas di sudut-sudut ruang dengan meninggalkan bunyi dengkur yang hampir mirip seperti mesin yang lama tidak di service. Begitu senangnya di kantor waktu itu, karena suasana yang menyenangkan, teman teman yang hangat, dibalut dengan semangat membuat sesuatu yang baru dan berbeda, membuat suatu hari pimpinan harus melarang kami untuk tidur di kantor... Hahaha...saya rasa baru kali ini sebuah perusahaan melarang karyawannya tidur di kantor, dan mewajibkan pulang ke rumah...Mungkin di kantor lain justru sebaliknya, perusahaan harus membayar agar karyawannya bekerja lembur....
Di lantai 3 yang dahulu “biru” itu, saya pun menemukan sebuah sudut ruangan dimana jarang ada orang mau kesitu. Ruangan yang sebenarnya pantry itu begitu terpencil dan konon agak sedikit “horor”. Bahkan kawan-kawan office boy pun malas berlama-lama di sana. Waktu itu saya ditugaskan di Sportivo, sebuah program olahraga yang tayang setiap berita pagi jam 5. Otomatis kami harus menginap sesuai jadwal untuk melakukan editing dan mempersiapkan berita olahraga untuk sport pagi. Pojok itupun saya jadikan tempat untuk “bersembunyi” dan merokok bersama beberapa kawan Sportivo. Maklum...di lt 3 hampir semua ruangan tidak boleh untuk merokok. Satu-satunya tempat merokok adalah di “halaman belakang” Lt 3 dekat lift, dimana semua orang yang berlalu lalang di lift bisa melihat dan deru suara kipas AC besar yang mengganggu.
Karena kami sering merokok di pantry sambil melarikan diri sejenak dari pekerjaan, (walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan merokok di situ), kawan-kawan Office Boy pun mulai sering melakukan aktifitas di situ, dari mulai membuatkan kami kopi sampai berjualan indomie rebus. Lama-kelamaan, tidak hanya anak-anak Sportivo yang nongkrong di situ, namun banyak kawan-kawan dari program lain pun ikutan “bersembunyi” di pantry itu sekadar untuk merokok, minum kopi, catur, dan beristirahat sejenak dari penatnya pekerjaan. Singkat cerita, lama-kelamaan, semakin banyak yang nongkrong di pantry dan hal itu justru memberikan dampak positif bagi kantor besar itu, untuk menguasai rating nasional. Hal itu dapat terjadi karena beberapa program dengan share rating tinggi berawal dari diskusi ide di pantry itu. Istimewanya, lama-lama tidak hanya kami para bawahan yang nongkrong dan bersembunyi di situ, namun juga beberapa pimpinan termasuk Kepala Divisi yang kebetulan ruangannya ada di sebelah pantry, sehingga ketika seseorang berjalan ke arah pantry, pasti melewati ruangan kepala divisi. Lebih istimewa lagi, para pimpinan kadang datang, hanya sekadar untuk merokok bersama, lalu berdiskusi sejenak tentang program. Dan benar, “otak” dan ide dari divisi pemberitaan Televisi besar itu, berawal dari pantry dan justru bukan dari ruang rapat yang formal. Dari pantry pojok, rating share nasional teratas pertama benar-benar tercapai.
Sayang, saat saya kembali datang ke Tendean bulan Juni lalu, pantry bersejarah itu telah hilang digusur paksa untuk sebuah ruangan baru yang diperuntukkan bagi sebuah televisi baru.
Saya yakin banyak kawan-kawan yang masih ingat dengan sudut kecil itu....duduk “ngelesot” dikarpet bersandarkan tembok, merokok, berdiskusi maupun sekadar berbincang biasa, menyantap Indomie, catur, atau bahkan hanya sekadar bersembunyi sebentar dari pekerjaan... Pasti, orang-orang baru yang datang ke lt 3 tidak ada yang paham lagi sejarah pantry itu, atau bahkah sekadar tau dimana letaknya. Namun saya ingat, pantry itu menjadi salah satu bagian sejarah yang membesarkan sebuah divisi pemberitaan, dari televisi bernama Trans TV, hingga sempat bertengger di rangking satu nasional untuk share dan rating program.....Dan dari situlah beberapa program legendaris lahir....dari jiwa-jiwa yang tadinya tidak mau diatur oleh sistem rapat yang kaku dan terpola....
Pantry kecil itu mungkin telah dilupakan....namun bagi beberapa orang yang tau darimana asal muasal lantai yang sekarang dihuni sebuah stasiun baru itu, saya yakin, pasti orang itu pernah merasakan masa masa keemasan tergabung dalam sebuah tim hebat, dan persahabatan yang membuat saya dan kawan-kawan enggan meninggalkan lantai 3 Tendean.....
Ya...pantry itu dahulu....
Sayang, saya tidak pernah sempat mengabadikannya sebelum lenyap.... Banyak sekali kenangan di sana....

Minggu, 10 Januari 2016

"Hak" Yang Hilang

Hari ini sebuah perkiraan rejeki lepas dari tanganku. Lalu sepanjang jalan akupun menyesali mengapa aku melalaikan sholat sehingga aku mengalami kesialan ini. Tiba-tiba Tuhan mendatangiku dan Berkata, "Bukan karena sholatmu..."
Aku pun menimpali, "Lalu karena apa?"...
Tuhan berkata lagi, "bukan karena sholatmu....
"Aku tidak paham Tuhan..." Jawabku
Sekali lagi Tuhan menjawab, "Bukan karena sholatmu..."
Aku pun berkata, "Engkau Yang Maha Tahu.."

"Semua karena kamu merasa rejeki itu adalah milikmu! Ingat...rejeki itu milik Ku!!
Aku hanya sedikit meminta tolong kepadamu untuk menyampaikan milik Ku itu kepada yang berhak..."
Terserah kepada Ku berapa yang ingin kutitipkan kepadamu..
Aku hanya percaya kepada orang-orang yang menyampaikan titipan Ku...Jika kamu belum menyampaikan, pastilah Aku tidak akan percaya meminta tolong kepadamu...."

Rabu, 28 Oktober 2015

Memahami Merah Putih dari Ndog Abang (Telur Merah)

Ndog abang atau telur merah sering kita jumpai saat prosesi Grebeg Mulud, Syawal, maupun Besar. Telur merah biasanya dijual di pinggir-pinggir jalan pada saat berlangsungnya pasar malam Sekaten maupun pada saat prosesi Grebeg. Telur merah ditusuk kayu bambu dengan hiasan kertas minyak warna warni di atasnya. Dahulu pada saat menjelang Grebeg, kita dengan mudah menjumpai para penjual telur merah. Namun seiring bergulirnya modernisasi, penjual telur merah pun dapat dihitung dengan jari. Telur merah tidak hanya sekadar makanan camilan yang dijajakan untuk anak-anak. Telur merah ternyata memiliki simbol dan filosofi tinggi yang berkaitan dengan falsafah Jawa tentang kehidupan. Menurut KRT Jatiningrat atau biasa disapa Romo Tirun, budayawan keraton Yogyakarta, Telur merah memiliki makna tentang asal usul manusia. Telur merah terdiri dari bagian putih atau putihan dan cangkang yang diwarnai dengan warna merah. Putih adalah simbol laki-laki atau sperma, sedangkan cangkang merah berarti wanita atau lebih spesifiknya rahim wanita yang membungkus kuning telur atau calon bayi atau manusia baru. Merah dan putih ini dimaknai lebih dalam falsafah Jawa kuno yang dihubungkan dengan perilaku manusia. Jawa mengenal merah dan putih sebagi gula kelapa. Gula adalah gula aren yang juga berasal dari kelapa. Kelapa sendiri di Jawa merupakan buah yang istimewa. Selain karena kontur Nusantara sendiri yang sangat mudah menemukan buah kelapa, pelajaran tinggi tentang hidup dan menemukan siapa sejatinya Tuhan juga berasal dari buah kelapa. Kelapa mempunyai kulit bernama sabut, atau dalam bahasa Jawa disebut sepet yang berkonotasi dengan sipat atau sifat. Sifat merupakan bawaan lahiriah yang membentuk seorang manusia, seperti iri, dengki, marah, dan lain lain. Seorang manusia yang ingin sempurna dan mengenal Tuhan harus membuang sepet atau sipat, hingga bertemu dengan batok kelapa. Batok dikonotasikan dengan bathuk atau kening yang berisi logika. Seseorang yang ingin memahami sifat Tuhan, harus membuang logika setelah membuang sipat. Logika adalah suara batin yang kadang menyesatkan dan menggoda manusia dalam berbuat baik. Kadang logika manusia justru menutup niat untuk berbuat baik walaupun telah membuang sipat atau sifat manusiawinya. Maka untuk mengenal Tuhan lebih dekat, kita harus membuang batok sehingga menemukan daging kelapa yang berwarna putih. Daging inilah sejatinya jiwa manusia. Jiwa manusia selalu jujur sehingga digambarkan berwarna putih bersih seperti daging kelapa. Jiwa ini lah yang harus didalami seorang manusia yang ingin mengenal Tuhan, karena dalam daging kelapa atau jiwa manusia terdapat banyu degan atau air kelapa yang berupa air murni. Air ini merupakan air yang benar-benar steril dan bisa mengalahkan racun apapun. Air murni itulah Tuhan. Kita akan mencapai Tuhan saat kita bisa membuang sifat buruk manusiawi kita, membuang logika, dan terakhir menyelami jiwa murni dari daging buah kelapa yang berwarna Putih hingga menemui banyu degan yang luar biasa khasiatnya mampu mengalahkan racun apapun. Gula kelapa atau merah putih begitu memiliki makna tinggi dalam sejarah Jawa dan Nusantara. Bahkan kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara dan Jawa, yakni Majapahit, pun menggunakan gula kelapa atau merah putih sebagai panji-panji kebesaran yang berkibar kencang hingga dataran genting di Semenanjung Melayu. Negara besar penerusnya pun menggunakan panji panji gula kelapa atau merah putih sebagai bendera kebangsaan, yakni Indonesia. Namun sayang, saat ini tidak ada lagi yang memaknai gula kelapa atau merah putih secara dalam. Masyarakat sekarang memaknai merah putih sebagai darah dan tulang semata, akibat propaganda politis yang mengerdilkan ajaran Jawa kuno yang begitu tinggi. Orang hanya tahu merah putih, namun tidak paham apa dan darimana merah dan putih itu berasal. Indonesia tidak kebetulan saja dibentuk. Negara besar baru ini dibentuk karena takdir menjadi keturunan dan penerus Majapahit. Negara ini dibentuk dengan filosofi tinggi dari mulai bendera kebangsaan, lambang negara, hingga tanggal-tanggal bersejarahnya. Seperti juga Terbentuknya Amerika Serikat yang memiliki sejarah tersembunyi yang berhubungan dengan Free Mason, negara ini didirikan dalam puing kebesaran Jawa yang diwakili dalam simbol simbol negara. Telur merah atau ndog abang, adalah pengingat kita akan kebesaran merah dan putih, penyatuan laki-laki dan perempuan yang membentuk kehidupan baru, dan falfafah tinggi akan manusia dan ketuhanan. Setiap 3 kali dalam setahun, pada saat Grebeg, tanpa sengaja kita selalu diingatkan akan teori kejadian dan akal budi tinggi manusia yang disimbolkan dalam merah putih. Dahulu nenek moyang kita mengibaratkan, jika kita memakan ndog abang, makan secara simbolis kita akan "memakan" ajaran tingginya tentang ketuhanan dan perilaku baik, sehingga diharapkan, prosesi seperti Grebeg tidak hanya sekadar prosesi, namun juga sebuah ajaran yang dapat mengedukasi masyarakat tentang kehidupan dan ketuhanan. Sayang, ajaran tinggi itu pelan-pelan musnah ditelan modernisasi yang semakin hari semakin tidak terarah dan menyesatkan. Merah putih hanya dikibarkan, dan dihormati, namun tidak lagi dipahami....

Rabu, 07 Oktober 2015

Cinta Tumbuh bukan Di Pernikahan

Mencintai hingga menikah adalah merupakan ikrar untuk mencoba... Jangan dulu bilang anda begitu mencintainya saat anda ada di pelaminan... Pernikahan adalah kesepakatan untuk saling berpegangan tangan menantang hidup... Mencintai sesungguhnya adalah ketika anda dan dia tetap berpegangan tangan saat kerasnya hidup menerpa anda... Seperti kapal yang harus bertahan di tengah badai yang membuatnya terombang ambing... Satu persatu kesulitan menghantam, membuat anda dan pasangan anda harus saling menopang agar tidak tenggelam... Mencintai ada di sini.... Ketika anda merasa tim anda tidak solid tanpa ada dia.... Ketika keindahan itu tidak hanya berawal dari fisiknya yang menjadi alasan anda di awal untuk mencintainya... Ketika akhirnya keindahan yang lebih sejati muncul karena kebersamaan anda mengemudikan "kapal" yang anda kendarai... Itulah mengapa orang Jawa selalu berpesan..."Witing tresno jalaran seko kulino..." atau Cinta berawal dari kebiasaan.... Bukan karena kebiasaan bertemu, kebiasaan mengatakan kata cinta, kebiasaan bersama, dan kebiasaan kebiasaan lain... Namun kebiasaan yang dimaksud adalah kebiasaan bersama...sudah saling mengerti akibat kebiasaan menghadapi masalah bersama...dan kebiasaan saling melengkapi dalam setiap ujian yang diberikan Tuhan... Banyak pasangan yang gagal mengatasi dan membuktikan cinta yang anda selalu ucapkan atau bahkan anda ikrarkan di pernikahan karena tidak sanggup saling melengkapi, tidak mampu mengendalikan "kapal" dalam badai, dan tidak bisa menghadapi ujian hidup dengan saling menopang dengan kesadaran penuh bahwa semua adalah perjalanan yang harus dilalui... Akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan sendiri sendiri.... Bagi saya mencintai itu baru dimulai saat permainan sepakbola sudah berjalan, bukan sebelum permainan di mulai atau peluit wasit baru saja ditiupkan... Bagaimana membongkar pertahanan dalam untuk mencapai sebuah kemenangan diperlukan saling pengertian yang tinggi antara seorang playmaker sekelas Xavi dengan penyerang sekaliber Luis Suarez. Playmaker harus tahu kemana striker bergerak agar dapat mengumpan, dan striker harus memahami pola pikir playmaker kemana playmaker tersebut akan mengumpan sehingga ia tahu kemana harus bergerak... Saat saling pengertian itu terbangun, maka sebuah tim akan menciptakan serangan-serangan berbahaya demi mencapai kemenangan... Maka sekali lagi...jangan merasa mencintai dahulu sebelum cinta itu dibuktikan di tengah kerasnya hidup yang kita lalui..... Cinta tumbuh bukan saat sebelum menikah, namun saat anda tahu, dia sangat berarti bagi anda untuk bertahan dalam mengatasi cobaan hidup.... Ikatan dua buah kayu atau bambu akan diuji kekuatannya bukan saat proses mengikat selesai, namun saat sudah di coba mengangkut beban.....

Jumat, 02 Oktober 2015

Ketika Maghrib di Pancoran

Saya bahkan sudah lupa nama dari pasangan sederhana berusia lanjut itu. Keduanya saya temui ketika saya membuat liputan kisah-kisah Ramadhan di tahun 2005 silam, tentang penyapu jalanan ibukota. Saya dan reporter waktu itu mendatangi sebuah rumah, yang lebih tepat disebut gubug, karena hanya berukuran sekitar 3x3 m2 yang berdiri di tanah kosong kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Gubug itu hanya terdiri dari satu ruangan bercampur aduk dari kamar tidur, ruang tamu, hingga dapur. Penghuninya adalah sepasang suami istri berusia senja, berumur sekitar 60 tahun an, yang berprofesi sebagai buruh penyapu jalan. Mereka bekerja dari selepas shubuh, hingga menjelang maghrib, menyapu jalan sekitar Tugu Pancoran, dengan upah waktu itu sekitar 5000 rupiah per hari. Namun kali ini saya terjebak oleh rasa kasihan sebagai seorang manusia. Ketika saya melihat mereka, saya jadi teringat dengan orang tua yang tinggal di Yogyakarta, yang juga tinggal sendiri di rumah.
Singkat cerita, seharian kami mengikuti pasangan suami istri lanjut usia itu dari mulai persiapan sebelum Shubuh, hingga sore menjelang. Menjelang maghrib, kami pun meneruskan pengambilan gambar buka bersama pasangan suami istri itu di gubung sederhana mereka. Adzan maghrib pun menggema ke seantero ibukota, dan saya terus merekam aktifitas mereka saat berbuka puasa. Melihat mereka berbuka puasa, saya pun tersenyum sambil mata tak lepas dari view finder kamera video saya. Begitu hangat mereka dalam kesederhanaan di usia senja. Saling berbincang, saling tertawa, saling bercerita, seolah hanya ada kebahagiaan di dalam hidup mereka. Seolah kesulitan hidup hanyalah pandangan orang luar yang hanya melihat hidup mereka "dari luar pagar". Mereka seperti muda dan bahagia.
Tak lama, si bapak memanggil saya dan reporter untuk ikut bergabung berbuka puasa bersama.
"Nak, berbukalah dulu....hentikan dulu bekerja...mari kita berbuka bersama..." kata si bapak memanggil saya.
Saya sebenarnya tidak enak ikut berbuka puasa mengingat makanan mereka terlihat tidak banyak. Saya takut justru merepotkan. Namun untuk kedua kali si bapak memanggil kami.
"Sini...ayo berbuka seadanya...hanya ada sayur bening, dan nasi serta segelas teh panas...."
Saya pun terpaksa memenuhi undangan mereka karena takut mereka tersinggung. Dan benar saja, di situ hanya ada serantang sayur bening yang hanya berisi daun kol saja tanpa ada sayuran lainnya. Teh panas yang dibuatkan si ibu pun bening dan tidak terlalu manis. Namun mereka dengan lahap berbuka dan minum teh bersama sambil tertawa tertawa bertukar cerita. Betapa sore itu di gubung yang hanya terbuat dari triplek bekas itu, saya benar benar mendapat sebuah makna. Betapa kebahagiaan tidak selalu diukur dengan harta dan rupiah. Betapa kehangatan dan cinta tidak selalu diukur dengan rumah mewah dan melimpahnya makanan.
Bahagia itu sederhana....ketika kita merasa bahwa harta adalah semu dan cinta adalah sesuatu jujur serta kekal. Segelas teh panas dan sepiring sayur kol menjadi istimewa, ketika kita tidak lagi memperbincangkan kesulitan...karena sejatinya hidup adalah saat tubuh, tangan, hati, dan pikiran kita selalu bahagia..
Kini saya tida pernah tahu lagi dimana pasangan suami istri itu berada. Terakhir saya berkunjung ke Jakarta dan melewat Pancoran, gubug mereka tidak lagi terlihat.

Minggu, 20 September 2015

Obrolan Menyongsong Tidur

Bijaksana itu ditempa...
Anda tidak akan menjadi bijak dalam posisi hidup mewah
Kebijaksanaan itu terserak diantara tumpukan urat-urat perjalanan hidup. Kebijaksanaan itu tidak tergeletak begitu saja di dalam lemari mewah dengan kunci-kunci baja.
Bijaksana itu ada saat anda merasakan kebahagiaan dalam kekurangan. Saya sendiri tidak yakin kata kebijaksanaan itu keluar dari gedung-gedung megah, dan orang-orang yang masih berpikir bahwa segala hal di dunia ini adalah haknya.
Kebijaksanaan ada karena perenungan dan penghayatan. Ia muncul dari sela buku usang dan obrolan menjemukan di sebuah sudut.
Ia hanya permulaan yang kuncinya kita dapatkan dari sepanjang perjalanan ini.
Kebijaksanaan adalah mula.
Ia yang bukan sebuah teori Kebijaksanaan adalah penerapan tanpa berpikir sombong dan takabur. Ia menunduk seperti padi. Ia panduan yang tidak pernah berhasil dibukukan.
Maka kebijaksanaan adalah cara pandang dan pola pikir.
Ia hanya bisa berjalan dengan sedikit bergumam...
"Iya...saya mengerti...."
"Saya yakin kebijaksanaan akan membawa saya ke jalan yang semakin jauh namun justru semakin bercahaya..."

Sabtu, 12 September 2015

Televisi, benda apakah itu?

Otobiografi Penulis

Jumat, 04 September 2015

Visual Namaku

Namaku visual..
Aku adalah bahasa dari sudut bisu
Aku adalah pemberontakan para penghuni relung gelap
Namaku visual...
Ayahku warna dan ibuku fakta....